Minggu, 01 Maret 2015

Minggu kedelapan

Dia seorang anak dari keluarga kuli kasar bergaji rendah. Masa kerja yang sudah melampaui angka dua puluh tahun sama sekali tidak menambah jumlah gajinya. Ayahnya bekerja di salah satu gudang bulog beberapa kilometer di luar desa. Bukan sebagai satpam atau sopir truk. Apalagi sebagai pencatat keluar masuknya barang atau bagian keuangan. Melainkan sebagai pengangkut karung-karung beras raksasa dari truk-truk tua ke dalam gudang pengap lagi panas tersebut. Dia sudah bekerja seperti itu sejak memasuki usia SMA. Dia tidak sekolah SMP, juga tidak tamat SD. Semenjak memulai kerja sebagai buruh bulog, hidup dan harapannya ditumpahkan pada panen para petani di sawah-sawah nun jauh di sana dan berlanjut sampai sekarang dia beristri dan beranak. Anak yang mulai sekolah SMP.

Istrinya bekerja di tempat penyelepan beras. Dan, sama seperti suaminya, dia mulai bekerja di sana semnejak memauki usia SMA. Tidak pernah memasuki SMP dan beruntung karena berhasil menamatkan SD. Dia pun menggantungkan kehidupannya pada panen para petani yang sawahnya membentang luas tak jauh dari tempat kerjanya.

Bekerja sebagai buruh di gudang yang sama sekali tidak menuntutnya untuk membaca apapun, ternyata tak mencegah sang bapak untuk mempelajari sesuatu. Pastinya itu bukan matematika, bukan pula kimia atau fisika, apalagi Bahasa Inggris. Bahkan Bahasa Indonesia pun tidak. Dia tidak mempelajari semua itu—lebih tepatnya dia tidak berinteraksi dengan semua itu, dia hanya berurusan dengan tulang, otot dan beban. Yang ketika ketiganya disatukan maka terciptalah keringat dan kelelahan. Nah, satu hal yang telah dipelajari dengan baik oleh bapak tersebut adalah bahwa orang-orang yang kerjanya ringan tapi bergaji besar di lingkungan gudang itu adalah orang-orang yang sekolahnya sampai tamat SMA kemudian melanjutkan kuliah. Itulah yang dia sangat pahami dan yakini. Oleh karena itu, bersama istrnya, bapak tersebut membuat kesepakatan untuk mencurahkan seluruh tenaga dan uang mereka guna membiayai sekolah anaknya. Mereka tidak menabung untuk membeli televisi atau furnitur. Lemari pun cuma satu dan tidak pernah bertambah. Cat rumah tidak diperbarui. Perabotan dapur berbahan seng dan plastik. Mereka melakukan semua itu dengan sebuah perhitungan yang cermat dan matang.

Untuk memiliki sebuah pesawat telivisi sungguh bukanlah sesuatu yang teramat sulit. Menabung selama lima bulan atau lebih sedikit pastilah cukup untuk membeli televisi ukuran 120, tapi sang bapak punya perhitungan yang jauh melebihi itu. Untuk sekedar membeli tv mereka hanya perlu mengeluarkan banyak uang sekali saja. Tapi nanti, setelah tv itu dipasang di rumah dan disetel pada tiap kesempatan senggang, ia akan terus-terusan mengeruk uang mereka karena beban listrik yang bertambah. Maka televisi akan selalu menghabiskan uang yang susah payah mereka kumpulkan dengan sia-sia. Televisi adalah peti kotak yang berbahaya dan mengancam bagi cita-cita sebuah keluarga.

Membeli lemari baru pun bukanlah sesuatu yang terlalu berat. Menabung selama setahun atau lebih sedikit pastinya cukup untuk membeli sebuah lemari baru dengan bahan kayu tak terlalu jelek. Tapi bapak punya pertimbangan cerdas untuk memutuskan tidak membeli lemari baru. Jika kita beli lemari baru, Bu, katanya, kita tidak hanya akan mengeluarkan banyak uang sekali. Tapi setelah itu, kita akan selalu dipaksa untuk mengeluarkan uang lebih banyak lagi. Lemari baru yang kosong akan menuntut untuk diisi. Lemari itu akan membuat kita membuang-buang uang untuk beli pakaian, beli kain, beli barang-barang yang tak pernah dipakai. Itu semua belanja yang tidak ada gunanya. Begitu pula dengan cat rumah yang baru. Nabi tidak memerintah kita untuk ngecat rumah, kan? Tapi beliau memerintah kita untuk menjaga kebersihannya. Kalau kita bisa menjaga rumah kita tetap bersih maka itu sudah cukup, Bu. Dengan demikian, istrinya pun tak pernah lagi memikirkan baju baru.

Tentang mengapa tak ada satupun perabotan dapur yang terbuat dari kaca atau porselen, alasannya karena baik porselen maupun kaca bisa pecah, piring kaca kemungkinan besar tak akan bertahan melebihi lima tahun. Dan setiap kali ada yang pecah maka mereka harus membeli yang baru. Itu perbuatan yang sangat boros. Tanpa perlu dijelaskan, kedua pasangan suami isteri itu bersepakat untuk memakai perabot dari logam dan plastik. Piring plastik tidak akan pecah walau jatuh sepuluh kali dalam sehari. Gelas besi hanya akan penyok jika jatuh terlontar dari tangan. Maka jadilah rumah pasangan suami isteri itu begitu sederhana dan bersahaja. Lantas untuk apa semua uang yang mereka dapatkan dari membanting tulang di gudang bulog dan tempat penyelepan padi?

Untuk biaya sekolah anaknya yang kini memasuki kelas 7 SMP. Pasangan suami isteri itu sangat perduli pada pendidikian anak semata wayang mereka. Karena setelah puluhan tahun dihabiskan bekerja di gudang bulog, sang ayah berhasil mengambil satu pelajaran penting yang mengubah seluruh pandangannya tentang kehidupan: bahwa orang-orang yang kerjanya ringan dan bergaji besar di gudang bulog adalah orang-orang yang sekolahnya lulus SMP dan SMA kemudian melanjutkan kuliah dan jadi jadi sarjana. Itulah ilmu terbaik yang berhasil dia dapatkan dari gudang kesakitan dan kelelahan itu. Dan ketika dia menyampaikan penemuannya tadi pada isterinya yang lugu, perempuan taat itu pun mengiyakan dan mendukung semua keputusan suaminya berkenaan pendidikan anaknya. Pasangan suami isteri itu pun bersepakat memfokuskan semua uang yang mereka dapatkan untuk kepentingan pendidikan anaknya. Agar dia bisa masuk SMP, agar dia bisa lulus SMA, agar nanti bisa kuliah, agar nanti saat dewasa dia tidak lagi menjadi kuli seperti mereka, agar dia hanya duduk saja di samping kipas angin berputar mencatati karung-karung beras yang masuk dan pulang dengan gaji besar. Itulah harapan kedua orang tua yang bersahaja itu.

Anaknya yang penurut itu paham sekali mengenai harapan dan cita-cita orang tuanya. Dia sudah menyaksikan bagaimana penderitaan dan kesusahan mereka. Bagaimana pekerjaan berat menuakan mereka lebih cepat dari yang bisa dilakukan waktu. Walau belum baligh, dia benar-benar memahami apa artinya hidup kekurangan dan penuh keterbatasan. Dia selalu mendengarkan petuah orang tuanya dengan tekun tentang pentingnya sekolah dan dia pun meyakini bahwa dirinya haram menjadi kuli, meneruskan penderitaan tujuh turunan yang diwarisi bapak ibunya. Anak itu demikian mengerti semua harapan ibu bapaknya dan demikian bekerja keras untuk menjadi buah hati yang mewujudkan harapan bahagia mereka. Dia anak yang bekerja keras di sekolah seperti kedua orang tuanya bekerja keras di gudang dan penggilingan. Dia tak kenal lelah dalam belajar di kelas maupun di rumah sebagaimana kedua orang tuanya tak kenal lelah bekerja di waktu kemarau atau hujan. Semenjak kelas empat SD sampai masuk SMP, nilai anak itu selalu di bawah 65. Seperti kedua orang tuanya yang gajinya tak pernah di atas tiga ratus ribu.
Sayang sekali, anak itu bukanlah dari jenis yang mampu membuat orang tua bermimpi indah dengan meletakkan harapan di tangan anaknya. Dia bukanlah anak dari jenis yang membuat para orang tua bangga menempel hasil ulangannya yang 100 plus di ruang tamu agar dibaca semua tamu yang berkunjung. Dia bukan jenis anak untuk diceritakan kepada teman-teman kerja karena mendapat hadiah dari guru atas prestasi gemilangnya.
Mengapa? Apakah dia kurang bekerja keras? Masih lebih banyak bermain dari pada belajar? Tidak. Bukan seperti itu. Dia sudah bekerja keras. Sangat keras bahkan. Dia selalu belajar, dia tidak pernah melewatkan malam dengan bermain-main dan meninggalkan buku pelajarannya sendirian. Dia tidak melemparkan bukunya karena film kartun jepang sudah mulai tayang—Anda tentu masih ingat di rumahnya tidak ada televisi. Dia telah memulai hidup sebagai siswa yang tekun belajar sejak kelas empat SD sampai sekarang memasuki bangku kelas 7 SMP. Dan nilai-nilai ulangannya masih saja di bawah 65.

Sewaktu duduk di bangku kelas empat SD, dia di luar lingkaran sepuluh besar. Kelas lima, dia menduduki urutan ke lima belas. Memasuki kelas enam, dia hampir saja tidak lulus. Dan, bagaimana dia bisa masuk ke SMP adalah karena sekolah tersebut sedang sangat membutuhkan murid. Siapapun akan diterima oleh kepala sekolahnya asal dia masih bernyawa dan bisa duduk di bangku kelas. Anak itu memenuhi kedua syarat utama tersebut.

Setiap kali usai ulangan, bahkan setiap hari sepulang sekolah, pada malam hari ke dua orang tuanya akan mengecek hasil ulangan dan buku-buku pelajarannya serta mengatakan beberapa hal. Momen paling menakutkan bagi anak itu adalah ketika mereka mengecek hasil ulangannya. Di situ, pada lembar kertas pengukur kepintaran tersebut, hampir selalu akan tertera angka 50, atau 45, atau 40, lebih sering 30, dengan tinta merah. Dan dia hanya bisa tertunduk diam setiap kali ibu bapaknya mengamati angka-angka merah tersebut. Kemudian dia akan menjadi sangat marah pada dirinya sendiri karena kedua orang tuanya tidak pernah marah gara-gara nilai ulangannya.

Mereka hanya diam. Sama seperti dirinya. Mereka tidak bertanya dengan gaya pura-pura bodoh tapi menyindir sebagaimana dilakukan banyak ornag tua lainnya, Nak, apa ini? Angka apa ini? Melainkan mereka hanya menatapnya di wajah tak lebih dari lima detik, kemudian, seperti yang selalu mereka lakukan, sang ibu akan mengelus rambutnya, sang bapak akan mulai bicara. Sekali lagi bercerita bahwa menjadi kuli itu susah. Menceritakan bahwa mereka tidak membeli banyak barang karena ingin selalu bisa membayar uang sekolahnya. Mencurahkan impian bahwa dia suatu hari nanti akan menjadi pria sukses yang bekerja mudah tapi gaji melimpah. Setelah itu, sama sekali tanpa menyinggung hasil ulangan hari itu, kedua orang tuanya akan pergi ke kamar dan tidur. Membanting diri dalam kelelahan sepanjang hari. Dan bocah itu akan mengutuki dirinya dan kebodohannya. Dia benci semua tentang dirinya. Dia sangat benci. Dan betapa orang tuanya memaafkan semua kegagalannya benar-benar membuatnya semakin terdorong—atau mungkin tertekan—untuk memperbaiki nilai-nilai ulangannya.

Ketika dia diterima masuk SMP, orang tuanya tentu sangat bahagia, dia pun demikian, salah satu pintu gerbang menuju kesuksesan masa depan telah berhasil dimasuki. Tapi justeru di situlah bencana itu lebih banyak menimpanya. Pelajaran di SMP benar-benar berbeda dengan semua yang biasa dia temukan di SD. Dia menemukan Bahasa Inggris yang benar-benar berdiri di luar pemahamannya. Dia juga bolak-balik menemukan kata interpretasi, apresiasi, efisiensi dalam buku Bahasa Indonesia yang sama sekali tak dia mengerti artinya. Dia pun tak bisa apa-apa setiap kali gurunya memberi tugas mencari contoh konflik internaisonal, rekonsiliasi antar masyarakat, atau bencana alam di luar negeri karena dia tak pernah menonton apapun di rumahnya. Dia benar-benar merasa seperti ikan yang diseret ke daratan dan dipaksa untuk berenang mengelilingi pulau gersang. Kenyataan itu mendesaknya untuk belajar tiga kali lebih rajin dan giat dari pada sewaktu di SD hanya untuk mendapatkan nilai 30 setiap ulangan Bahasa Inggris, 45 pada ulangan Bahasa Indonesia, dan berkali-kali 0 besar untuk matematika.

Sekali waktu, dia pernah menyalahkan kedua orang tuanya atas kebebalan otaknya. Sejak kecil dia tak pernah diajari dengan baik dan benar oleh mereka. Kedua orang tuanya tak punya apa-apa untuk disampaikan selain cerita capeknya bekerja dan capeknya bekerja dan lagi-lagi capeknya bekerja. Orang tuanya tidak bisa mengajarinya berhitung, atau menghapal kata-kata asing, tidak juga mereka menyediakan televisi agar dia bisa melihat apa yang terjadi jauh di luar negeri. Maka malam itu, di depan halaman buku-bukunya yang terbuka lebar, dia menjadi demikian marah kepada kedua orang tua yang selalu mengharapakan dan mempercayainya selama ini. Akan tetapi, pada saat kemasygulannya memuncak, urat lehernya mengeras, cengkeraman tangannya menikam, begitu dia mendengar suara dengkur bapak ibunya yang bergetar, lalu suara kibasan kipas anyaman bambu, disusul kemudian pukulan keras di kaki untuk mengusir nyamuk, dia pun teringat lagi betapa sudah susah payah ibu bapak yang tak sekolah itu untuk mengasuh, merawat dan mensekolahkanny
a. Mereka tak sempat untuk mendidiknya dengan layak karena keterbatasan tenaga dan ilmu, oleh karena itu mereka mati-matian berusaha agar dia tetap sekolah sebagai pengganti pendidikan yang harusnya dia dapatkan di rumah. Dia masih kelas tujuh waktu itu, tapi dia sudah memahami situasi berat di rumahnya. Maka malam itu pun dia menangis. Menangisi orang tuanya yang melarat dari kecil sampai tua, menangisi kebebalan otaknya sehinga harus selalu mengecewakan setiap harapan. Dia menangisi semua aitu.

Kemudian sampailah saat ujian kenaikan kelas. Bocah itu lebih-lebih lagi bekerja keras, membaca ulang buku pelajaran dan berusaha mengerjakan PR-PR yang dia dapatkan. Orang tuanya sangat terkesan mendapati kegigihannya itu. Bapaknya pun berbisik pada isterinya, bagaimana kalau kita belikan susu agar anak kita tambah cerdas, biar dia naik kelas dan nilainya bagus? Maka setiap malam, sebelum sang ibu tidur, ketika bocah itu sudah mulai membaca buku pelajarannya untuk ujian esok hari, segelas susu hangat akan sudah tersedia di mejanya. Dia tersenyum senang, segera meneguknya, mendengarkan ibunya melangkah masuk ke dalam kamar, lalu dia pun melanjutkan belajar. Membaca dengan semangat dan percaya diri. Maka dia pun naik kelas, dengan nilai paling rendah di antara semua siswa. Harusnya dia tak naik kelas, tapi karena pertimbangan syarat jumlah murid dalam satu kelas untuk mendapatkan bantuan pemerintah, dia pun dinaikkan. Menghadapi hasil ujian yang terpuruk seperti itu, seperti biasa, orang tuanya tidak memarahinya, tapi bercerita tentang lulus SMA dan jadi sarjana. Malam harinya, bocah itu menangis di bawah bantal kumal.

Duduk di kelas delapan, keadaan tidak mengubah segala sesuatunya menjadi lebih baik. Suatu malam, ketika dia sedang mengerjakan PR yang harus dikumpulkan besok, ketika kedua orang tuanya sudah tidur istirahat, otaknya mampat semampat-mampatnya. Dia putus asa untuk mengerjakan matematika, dia pun pindah menekuni PR IPA, tapi tidak ada yang membaik. Dia pun menutup buku IPA dan beralih berusaha menerjemahkan bacaan Bahasa Inggris yang ditugaskan. Dia berhasil menerjemahkan perkata dengan bantuan kamus tua tapi hasilnya hanyalah susunan kata acak-kadut yang tak bisa dimengerti maksudnya bahkan oleh dirinya.

Dia menghela nafas dalam. Menutup mata dan bersiap menaruh pulpen ke kotaknya. Dengkur orang tuanya yang kelelahan tersampai ke telinganya. Dia pun mengambil lagi buku matematika, menggenggam pulpen dengan erat. Dia amati di sana bertengger angka-angka luar biasa menyakitkan kepala. Dia tutup lagi buku tersebut. Lalu segera mengambil IPA tapi tak ada yang bisa dia lakukan untuk menemukan kombinasi unsur-unsur pembentuk materi yang ditugaskan. Dia pun berpindah ke Bahasa Inggris dan hanya mendapatkan kejengkelan yang semakin memuncak. Malam itu, untuk pertama kalinya, kesabarannya habis.

Dia mengumpat. Memaki. Meludah ke tanah. Menyumpahi buku-buku pelajarannya. Diambilnya buku matematika dan dicabik-cabiknya tanpa ampun. Pelajaran sialan! Teriaknya dengan suara tertahan. Lalu diambilnya buku IPA dan Bahasa Inggris. Dirobeknya kedua buku tersebut sampai menjadi cabikan kecil. Kemudian dilemparkannya semua buku itu ke sudut rumah dengan kebencian menggelora. Tak terasa, air matanya meleler menggenangi pipi. Dia membenci semua hasil ulangannya. Terlebih lagi, dia membenci dirinya, membenci mengapa hanya untuk sedikit lebih baik dalam memahami pelajaran saja tidak bisa. Dia berharap agar orang tuanya memarahinya. Dia berharap agar bapaknya memukulinya, atau agar ibunya mencercanya. Membuat punggungnya bilur-bilur. Menjadikannya bahan ejekan tetangga. Dengan demikian dia akan merasa telah membayar semua kesalahan. Tapi orang tuanya terus menyayanginya, terus menyampaikan harapannya, terus menceritakan cita-citanya. Orang tuanya tidak pernah berhenti percaya dan berharap padanya. Itulah yang semakin membuatnya membenci dirinya.

Lambat laun, setelah tangis sesenggukannya reda, pikirannya kembali tenang, dia pun mendengar lagi suara pukulan-pukulan ringan tangan orang tuanya mengusir nyamuk. Di rumah itu hanya ada satu obat nyamuk bakar menyala, yaitu di dekat mejanya agar dia tidak terganggu saat belajar. Orang tuanya membiarkan diri mereka dimakan nyamuk setiap malam, tapi mereka tak pernah rela anaknya diganggu nyamuk saat belajar. Bocah itu pun kini gundah, dia baru saja merobek-robek bukunya. Dia tak bisa lagi belajar.

Pikiran-pikiran menakutkan kini menghantuinya. Orang tuanya menyekolahkan dirinya, membuatkan susu hangat saat ujian, menyediakan obat nyamuk saat belajar malam, bukanlah agar ia dengan tolol merobek-robek buku pelajaran. Dia pun panik. Segera dia turun dari kursinya, mencakup semua robekan kertas buku pelajarannya dan membawanya kebelakang rumah. Di sana, dia bakar tiga buku pelajaran itu. Kilatan api yang kuning menyala menari-nari di wajahnya. Dia menunggu sampai sobekan-sobekan itu hancur menjadi abu. Tak cukup hanya itu, dia menaburkan abu tersebut ke sekitar. Dia tak ingin orang tuanya tahu bahwa dia baru saja menghancurkan impian mereka. Walaupun itu hanya terjadi tak lebh dari lima belas menit, dia tak ingin orang tuanya tahu betapa anak kebanggaannya sangat mudah menyerah. Karena dia tahu sungguh menyaktikan hal itu bagi mereka berdua.

Setelah semua bersih, dia segera kembali ke kamarnya dan tidak meneruskan belajar. Dia ambil celengannya dan mengorek sejumlah uang cukup untuk membeli tiga buah buku. Esok harinya, dia berangkat ke sekolah lebih awal dan berusaha sesedikit mungkin menatap wajah orang tuanya, khususnya mata mereka. Walau mereka tak tahu apa yang telah terjadi semalam, walau tak ada satu orang pun yang memberi tahu mereka, tapi menatap mata kedua orang tuanya seakan bisa membongkar semua kejahatan yang dia sembunyikan. Hari itu dia tiga kali dihukum karena tidak mengumpulkan tiga PR. Dia bisa menerima semuanya. Dan sebelum pulang setelah jam pelajaran usai, dia meminjam buku matematika, IPA dan Bahasa Inggris pada temannya. Bocah itu telah memutuskan untuk membayar semua kesalahan yang telah dia buat. Dia akan menyalin semua pelajaran mulai dari semester pertama sampai semester ke dua.

Sesampainya di rumah, tidak dia tunjukkan buku-buku tersebut pada orang tuanya. Tentu saja. Dia bilang kalau ke tiga buku itu dikumpukan kepada guru maisng-masing. Walau pun hari itu terasa canggung dan tak nyaman tapi dia bisa melaluinya dengan baik. Sampai akhirnya malam tiba dan jam belajarnya datang. Malam itu dia tidak membca buku seperti biasanya, tapi menyalin buku temannya mulai dari halaman pertama sampai akhir. Dan, keajaiban itu pun terjadi. Inilah momen yang biasa kita sebut sebagai detik ketka doa terjawab dan dikabulkan. Malam yang penuh mukjizat.

Sementara dia menyalin, dia terkejut dengan kenyataan bahwa dia kini mulai memahami satu persatu apa-apa yang telah diajarkan gurunya yang sebelumnya tidak dia pahami, yang tadinya dia lupakan, yang tadinya tak dia mengerti sama sekali. Tiba-tiba semua itu menjadi demikian jelas dan terang. Dia pun semakin semangat menyalin. Terkadang dia menebak apa kira-kira yang akan dia temukan pada kalimat berikutya dan ternyata dia benar. Gairahnya meningkat demikian pesat sampai-sampai dia tidak sadar sudah hampir empat jam dia habiskan menyalin buku IPA. Untuk pertama kalinya dia merasakan kepuasan dalam belajar. Dia sama sekali tak merasakan lelah. Juga tak ada jenuh. Pun tak ada frustasi. Semua yang dia lakukan malam itu terasa demikian mudah dan demikian mencerahkan. Malam itu dia rampung menyalin IPA dan tidur dengan tekad akan menyalin buku Bahasa Inggris besok malam hanya dalam semalam. Dan, itulah yang terjadi, esok malamnya ketika dia menyalin pelajaran Bahasa Inggris, seperti sebuah keajaiban yang ditaburkan dari langit, tiba-tiba dia menyadari semua hal yang membuatnya tak paham selama ini, dia juga menemukan apa saja yang seharusnya dia pikirkan agar dia mudah memahami bahasa internasional tersebut, rumus dan kosa kata membombardir otaknya demikian cepat dan dia bisa menyerap semuanya. Bocah itu kini bisa berdiri tegak di kelasnya.

Tak ayal, guru dan teman-temannya dibikin kaget setengah mati ketika dia mengacungkan tangan untuk menyelesaikan soal membuat kalimat Bahasa Inggris di papan. Dia maju dan mengambil kapur yang dengan tak yakin diulurkan sang guru. Di belakang, teman-temannya terkikik dan saling berbisik. Bocah itu dengan tenang berdiri di depan soal. “make a sentence using one subject and two verbs”. Teman-temannya mulai tak sanggup menahan tawa. Gurunya geleng-geleng kepala menduga bahwa untuk memahami pertanyaannya saja pasti dia tak bisa. Tapi bocah itu maju satu langkah, kemudian, mulai menggoreskan kapur di tangannya. Sejenak semua hening dan tak lepas menatap gerakan tangannya. Kemudian, di papan hitam itu, tertulislah kalimat ini:

“I wrote a sentence and read it loudly”

Guru itu terdiam. Teman-temannya membaca dalam hati berulang-ulang. Mereka tak percaya dengan yang mereka saksikan. Tapi kemudian, tepuk tangan membahana ketika guru itu berteriak tak percaya: BENARRR!!! Kejutan pun dia pamerkan dalam pelajaran IPA dan Matematika. Dia yang paling semangat mengacungkan tangan ketika gurunya menanyakan apa saja contoh penyakit yang menular melalui sentuhan. Dia juga sekali lagi maju saat guru matematikanya memberikan soal di papan. Ketika guru-guru tersebut berkumpul di kantor, mereka membicarakan bocah tersebut dengan antusiasme yang luar biasa. Terjerat antara heran dan terkesima sementara guru lainnya penasaran dan tak percaya. Seorang guru IPS pun ingin membuktikannya sendiri. Tapi dia kecewa, karena bocah itu tetap saja seperti hari-hari sebelumnya. Dia tidak tahu apa-apa. Dengan agak menggerutu, guru IPS itu mengira dia sedang dikerjai guru IPA, MTK, dan Bahasa Inggris bersama-sama.

Kenyataan itu menjadi pencerahan terbaik dalam hidup bocah tersebut. Kini dia tahu apa masalah yang dia hadapi sepanjang hidupnya ini. Kini dia tahu apa sebenarnya yang membuatnya secara konsisten mendapatkan nilai di bawah 65. Sesungguhnya, bukan dia yang bodoh, atau otaknya yang kelewat bebal, tapi gaya belajarnya yang tak sesuai. Dia bukan tipe orang yang akan paham dengan mendengarkan ceramah, dia juga tak akan paham jika harus terus membaca, dia malah akan tambah bingung jika disuruh melakukan latihan yang panjang dan penuh angka berlekukan. Dia pun akan melupakan apapun yang diminta untuk dihapalkan. Tapi dia akan dengan mudah memahami dan mengingat apa saja yang harus dia pelajari dengan menyalinnya. Semua tulisan temannya di buku yang ia pinjam, baik itu materi pelajaran atau ulangan atau PR, dia salin ulang agar bisa memahaminya. Semua mata pelajaran dia salin ulang. Dari kelas tujuh sampai kini kelas delapan. Hasilnya, seperti yang aku yakin sudah kau duga, dia menjadi juara ke 4 ketika naik ke kelas Sembilan.
Berikutnya, dia lulus SMP sebagai salah satu lulusan terbaik di kabupatennya. Fotonya yang bersalaman dengan bupati dijadikan spanduk dan dipampang di gerbang sekolahnya. Orang tuanya menangis terharu ketika menyaksikan anak semata wayangnya itu naik ke pentas guna menerima penghargaan dari kepala skeolah. Dia masuk SMA tanpa membayar, beasiswa penuh sudah menunggunya bahkan beberapa SMA memintanya untuk bersekolah di sana. Sejak semester dua kelas sepuluh sampai kelas dua belas, dia selalu ranking satu. Dan dia termasuk lima terbaik lulusan SMA se-provinsinya. Kini, melanjutkan kuliah sama sekali bukan impian kosong baginya juga ke dua orang tuanya. Semua orang mengaguminya dan tiba-tiba merasa begitu dekat dengannya. Mereka menyebut namanya seakan mengenalnya. Karena dialah sang jagoan, anak miskin bodoh yang dengan mengagumkan telah membalik dunia hingga berjumpalitan. Tapi mereka salah. Mereka tak tahu semua hal tentang anak itu, mereka, kenyataannya, tak begitu mengenalnya, karena tak ada satu pun yang tahu bahwa di buku tulisnya, selalu ada dua catatan mata pelajaran yang sama. Satu dia tulis ketika duduk di kelas, satunya lagi dia salin dari buku temannya di kamarnya pada malam hari.
***
Sebenarnya, dia tidak selalu meminjam buku temannya untuk menyalin. Memasuki SMa dia mengmbangkan tekniknya sendiri untuk menguatkan pemahaman dan ingatannya. Malam hari, dia akan duduk dan mencoba mengingat semua kata-kata gurunya dan menyalin semua yang dia ingat, kemudian mencocokkannya dengan catatan yang dia buat di kelas dan menambahi bagian-bagian yang kurang.

Kini, 15 tahun telah berlalu semenjak peristiwa menyalin buku untuk pertama kalinya itu, sang bocah telah menjadi pria dewasa dan menjabat sebagai CEO di sebuah hotel internasional yang berada Indonesia. Bahasa Inggris yang dulunya sangat asing baginya, kini dia fasih menggunakannya juga sedikit Bahasa Prancis yang sangat membantunya dalam melayani para customer elite yang kebanyakan dari Eropa dan Amerika. Sementara dia sibuk berkeliling dari ibu kota negara ke ibu kota propinsi, kedua orang tuanya tinggal di desa asal mereka dan sibuk beternak kambing. Bukannya dia menyingkirkan kedua orang yang berjasa itu, tidak, tapi begitulah caranya berbakti: dengan memenuhi apapun keinginan mereka tanpa memprotesnya sebagaimana mereka tak pernah memprotes nilainya yang jelek dulu sewaktu masih SD dan SMP. Dia tak memaksa orang tuanya agar tinggal di kota hanya agar mengukuhkan dirinya sebagai keluarga elit. Karena orang tuanya sama sekali tak mengerti bagaimana harus hdup di kota serumit dan sesibuk Jakarta. Dia tak memaksa keduanya untuk sekedar duduk di rumah mewah dan menonton televisi karena mereka lebih memilih untuk tinggal di rumah sederhana sambil beternak kambing di kampung.

Sebagai seorang pimpinan yang telah bertemu banyak orang penting dari seluruh benua, dia telah berhasil mempelajari satu ilmu penting yang sangat-sangat berguna: bahwa untuk membahagiakan orang tua tidak bisa dengan cara membawa mereka pada seluruh kemewahan dunia, tapi hanya dengan memberikan apa saja yang mereka minta agar bisa sibuk dan tak kesepian dalam hidupnya sehari-hari. Orang tuanya memilih untuk beternak, maka itulah yang dia sediakan. Setiap ada liburan dia akan berkunjung ke rumah orang tuanya dan dengan tekun akan menyimak cerita mereka bahwa keadaannya saat ini sudah mereka bayangkan jauh saat dia masih kanak-kanak. Bagaimanapun, dia percaya pada cerita kedua orang tuanya itu bahkan sebelum dia mengalaminya.

Satu hal yang dipelajarinya dari kisah hidunya sendiri adalah bahwa terkadang kita tampak bodoh bukannya karena kita memang bodoh, bukan pula karena otak kita yang lemah, atau karena kita tak memiliki orang tua yang cukup pintar untuk mengajari sejak kecil, bukan, tapi karena dua hal: kita kurang bekerja keras atau kita salah cara belajarnya. Ya, hanya dua itulah obat untuk kebodohan, bekerja keras (dalam belajar) serta belajar dengan cara yang benar. Kita kesulitan memahami suatu materi mungkin karena kita terlalu malas untuk mengulangnya lagi, atau, karena cara yang kita gunakan untuk menyerap materi tersebut tidak sesuai dengan cara yang dipakai otak kita. Maka, ketika kita sudah menemukan gaya belajar yang pas, dan kita tekun belajar dengan cara tersebut, sebuah lompatan prestasi quantum akan kita peragakan dengan memukau dan membanggakan.

Minggu, 22 Februari 2015

Pengorbanan Untuk Meraih Impian dan Cita-Cita


Dalam menggapai mimpi atau meraih kesukesan pun banyak pengorbanan yang harus kita lakukan. Kesuksesan ternyata bukan hal yang gratis, ada suatu hal yang harus dibayar untuk mendapatkannya, yaitu pengorbanan. Jika kita ingin mendapatkan kesuksesan maka kita harus menemukan dulu apa yang harus dibayarkan untuk mendapatkannya. Bukan hal yang sulit sih sebenarnya tetapi membutuhkan komitmen serta disiplin yang tinggi untuk melaksanakannya.

Kesuksesan membutuhkan sebuah proses. Sayangnya,banyak orang yang ingin menggapai kesuksesan namun tidak mau menjalani proses yang ada. Kehidupan modern yang serba instant terkadang membuat kita lupa bahwa segala sesuatu membutuhkan proses. Mana mungkin kita dapat menikmati buah durian yang lezat sehari setelah kita berkorban untuk menanam bijinya, setelah kita berkorban untuk memupuk, menyiram serta merawatnya dengan baik sehingga biji tersebut dapat tumbuh menjadi pohon dan berbuah lebat, dan proses untuk menjadi sukses adalah sebuah pengorbanan- pengorbanan yang harus kita lakukan.
Pengorbanan memiliki hubungan yang berbanding lurus dengan kesuksesan, artinya semakin besar kesuksesan yang kita inginkan maka semakin besar pula pengorbanan yang harus kita berikan. Bisa berupa pengorbanan waktu, biaya, dan usaha yang maksimal. Contoh lain, jika kita pelajar atau mahasiswa, kita perlu belajar giat, dengan mengorbankan waktu untuk belajar, mengorbankan uang untuk membeli buku, mengorbankan fikiran untuk dapat memahami dan belajar, dan jika pengorbanan telah dilakukan maka peluang kita untuk sukses semakin besar. Semakin besar pengorbanan, semakin besar kemungkinan kesuksesan.

Orang-orang sukses senantiasa mengisi waktu mereka dengan kegiatan yang semakin mendekatkan mereka kepada impian mereka. Sementara orang yang tidak mau sukes sedang asyik bermain atau membuang waktu.

Tidak ada sesuatu yang berharga diperoleh tanpa pengorbanan. Hidup dipenuhi dengan kejadian-kejadian kritis ketika kita akan mendapat kesempatan untuk menukarkan milik kita yang berharga dengan yang lainnya. Tetap buka mata untuk kejadian-kejadian seperti itu dan selalu pastikan kita sedang naik bukan turun.

Jadi apapaun mimpi yang akan kita gapai, baik mimpi sukses dalam pelajaran, pekerjaan, bisnis, semua memerlukan pengorbanan. Jadi jangan takut untuk berkorban untuk menggapai mimpi kita.
Menggapai impian dan cita-cita memang butuh proses yang panjang dan berliku. Jalan memnuju impian selalu terjal dan mendaki. Tidak banyak orang yang konsisten dan terus-menerus memperjuangkan impiannya. Sebagian malah memilih mengambil jalan pintas dan sebagian lagi memilih berhenti di tengah jalan. Jadi, hanya sedikit orang saja yang benar-benar berhasil sampai di puncak dalam arti menggapai impiannya. Memang pada awalnya penuh jalan berliku dan penuh duri tetapi ketika sampai di puncak sungguh terasa nikmat. Dan akan sangat membahagiakan sekali jika impian jadi kenyataan.

Seorang Pendaki gunung membutuhkan mental yang kuat, fisik yan prima, bekal yang memadai dan pemandu yang handal untuk bisa sampai ke puncak gunung. Perjuangan keras dan melelahkan harus dilalui untuk sampai ke puncak. Banyak diantara pendaki yang memutuskan kembali karena tidak tahan dengan cuaca dingin dan faktor lainnya. Sebagian malah memilih mendirikan tenda di tengah perjalanan karena tidak bisa menahan rasa capek. Memang niat dan kemauan yang keras adalah menentukan, karena akan ada banyak godaan selama perjalanan menuju puncak. Oleh karena itu, banyak faktor yang harus diperhatikan untuk sukses dalam menggapai impian.

Saat sedang berada dalam perjalanan meraih cita-cita tentunya ada banyak halangan dan rintangan. Nah, yang harus kita lakukan adalah bukan untuk menghindari hal tersebut tetapi justru kita harus menghadapi dan berusaha sekeras mungkin untuk melewati berbagai rintangan. Kita harus mempunyai prinsip pantang menyerah. Jangan mudah menyerah meskipun keadaan sedang sangat sulit. Karena jika kita menyerah sama saja kita menutup kesempatan yang sudah terbuka lebar. Bagaimana agar kita tidak mudah menyerah? Caranya yakni dengan fokus satu tujuan bahwa kita mampu menjalani rintangan dan berbagai kesulitan dan berusaha melakukan hal-hal positif sekecil apapun itu. Jangan sekali jatuh langsung menyerah begitu saja. Yakinlah bahwa setiap usaha positif kita akan membawa pada kenikmatan. Yakinlah bahwa kita akan mampu menghadapi semua cobaan dengan tetap berpegang teguh pada keyakinan kita untuk mencapai tujuan. Kuncinya adalah terus mencoba, mencoba dan mencoba lagi serta jangan pernah berhenti untuk berusaha.

Semakin jelas semakin baik. Jika kita berhasil membuat tujuan impian kita sedetail mungkin, maka peluang tercapai impian pun akan semakin besar. Mulailah buat daftar apa impian kita, bagaimana cara mencapainya, kendala-kendala apa yang dihadapi
Salah satu kunci kesuksesan adalah selalu fokus dengan apa yang dikerjakan sama hal nya dengan menggapai impian diperlukan fokus dan totalitas yang luar biasa. Akan ada banyak godaan dan halangan yang menghadang. Bisa jadi godaan itu akan membuat kita melenceng dari tujuan semula, malah membuat kita tergoda untuk menekuni bidang yang lain. Untuk itulah diperlukan fokus dalam menggapai impian kita. Jangan sampai kita tergoda atau malah melenceng dari impian awal kita.

Setiap kesuksesan pasti membutuhkan pengorbanan. Semakin besar impian kita maka akan semakin besar pengorbanan yang kita keluarkan. Pengorbanan itu berupa waktu, tenaga, pikiran dan bahkan uang. Contoh : jika kita mempunyai impian menjadi seorang dokter maka kita harus rela mengorbankan waktu untuk belajar dan bahkan mengorbankan biaya besar untuk membayar kuliah.
Setiap kesuksesan pasti diwarnai dari serentetan kegagalan demi kegagalan. Dari kegagalan itulah sebenarnya kita bisa belajar. Kita bisa mengambil hikmah agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi. Mencoba dan terus mencoba adalah mental seorang pemenang. Berani bangkit dari kegagalan adalah faktor penentu kesuksesan kita. Bahkan seberapa besar kesuksesan akan ditentukan dengan seberapa besar kekuatan untuk bangkit dari kegagalan.
Memantaskan diri adalah salah satu kunci sukses menggapai impian. Jika kita berusaha terus memantaskan diri dan mengupgrade mental kita sebagai pemenang maka lambat laun impian kita akan benar-benar terwujud. Karena apa yang kita pikirkan, itu yang semesta berikan.
Seberapa besar impian kita maka sebesar itulah kerja keras kita untuk mencapainya. Namun, sebenarnya jika kita sudah menggapai impian, maka kita telah mendapatkan lebih. Karena kita jauh lebih memiliki impian daripada menjadi orang biasa yang tidak memiliki impian sama sekali. Lalu, bagaimana jika seandainya impian kita yang sudah kita perjuangkan tak kunjung tercapai? Sebenarnya sederhanya saja, itu di karenakan kalau kita masih belum pantas menurut Allah untuk mendapatkan impian tersebut. Boleh jadi, impian tersebut harus terus kita perjuangkan. Bukankah banyak orang yang mengalami kegagalan demi kegagalan dalam menggapai impian namun pada akhirnya impian tersebut tercapai juga. Periksa lagi kesungguhan kita dalam menggapai impian tersebut. Siapa tahu kita masih kurang bersungguh-sungguh. Kemudian jangan lupa kita juga harus bersabar. Jika anda tidak sabar dan menyerah, maka gagal lah dalam menggapai impian. Dan yang terakhir adalah harus mengembalikannya semuanya kepada Allah. Karena Allah lah penentu semuanya.

Berdoalah selalu,  tentu saja Allah lah yang pada akhirnya menentukan apakah impian kita pantas kita dapatkan atau tidak. Yang perlu kita lakukan adalah memantaskan diri didepan Allah agar kita bisa menggapai impian tersebut.  Melakukan lah hal-hal terbaik dalam hidup, dan mendekatkan diri kepada Allah. Jika Allah menilai sudah pantas mendapatkannya, maka percayalah kita pasti bisa menggapai impian tersebut.

Sabtu, 14 Februari 2015

Pentingnya Bersyukur

Mengeluh adalah hal yang mudah dilakukan dan telah menjadi suatu kebiasaan, kebiasaan mengeluh tidak akan membuat situasi yang di hadapi menjadi lebih baik, malahan akan menguras energi dan menciptakan perasaan yang membebani diri. Misalnya mengeluh karena penghasilan kurang, mengeluh karena banyaknya masalah yang dihadapi, dan mengeluh karena apa-apa yang di hadirkan di hadapan nya tidak sesuai dengan keinginan atau tidak sesuai dengan harapan.

Seorang yang mengeluh senantiasa mencari penyebab permasalahan adalah sesuatu di luar dirinya sehingga kurang melakukan instropeksi. Padahal seringkali yang menjadi permasalahan utama seseorang adalah dirinya sendiri, bukan orang lain atau sesuatu di luar diri.

Agama mengajarkan untuk tidak mengeluh. Mengapa demikian? Dalam kehidupan tentu akan selalu ada suka-duka, sedih-senang, panas-dingin, hitam-putih, terang-gelap dan semua hukum alam lainnya. Karenanya kenapa harus mengeluhkan perputaran roda kehidupan yang pasti akan terjadi?

Kehadiran segala sesuatu pada dasarnya harus diterima secara lapang dada karena Allah izinkan terjadi pada diri kita, betapapun menyakitkannya, tidak mengenakkan, menakutkan. Sikap penerimaan inilah yang akan melapangkan dada dan membuatnya kuat untuk menjalani suka duka kehidupan. 

Misalkan, kita memiliki 2 orang teman, teman yang pertama selalu bersyukur dengan keadaan nya, sedangkan teman yang kedua selalu mengeluh. Tentunya kita lebih senang berhubungan dengan teman yang pertama, karena semua orang senang berhubungan dengan orang-orang positif dan kata-katanya membangun.

Mengapa kebanyakan orang sering mengeluh? Kita mengeluh karena kita merasa kecewa, bahwa realita yang terjadi tidak sesuai dengan kita yang harapkan atau kita inginkan. Cara mengatasi nya yaitu kita harus bersyukur dengan keadaan yang kita hadapi.
Sebagai contoh, banyak orang yang mengeluh dengan pekerjaan nya, padahal seharusnya kita bersyukur masih banyak orang di luar sana yang pengangguran, tidak punya pekerjaan, berusaha mencari pekerjaan kesana-kemari tapi belum menemukan pekerjaan, sama hal nya banyak siswa yang mengeluh karena banyak pr, tugas atau sebagainya, seharusnya pun kita bersyukur, kita diberi Allah rezeki, bisa sekolah, banyak orang-orang diluar sana yang berhenti sekolah karena kurangnya biaya, atau bahkan tidak pernah merasakan bangku sekolah karena keterbatasan ekonomi, atau mengeluh karena jalanan sering macet saat kita mengemudi, padahal ada ada jutaan orang yang tidak memiliki kendaraan pribadi seperti kita.

Percayalah bahwa di balik semua hal yang sering kita keluhkan pasti ada hal yang dapat kita syukuri, mulai ambil waktu untuk bersyukur setiap hari. Bersyukur atas pekerjaan, kesehatan, keluarga, dan segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.  Bersyukur lah lebih banyak dan percayalah hidup akan terasa lebih mudah dan keberuntungan senantiasa bersama kita, karena kita dapat melihat  hal-hal yang selama ini mungkin luput dari pandangan kita karena terlalu sering mengeluh.

Kalau kita semakin banyak bersyukur atas yang kita miliki, maka semakin banyak hal yang akan kita miliki untuk di syukuri, begitupun sebaliknya, semakin banyak kita mengeluh atas masalah yang kita hadapi, maka jangan heran jika rasanya semakin banyak masalah yang kita alami untuk di keluhkan.

Coba kita sisihkan waktu sejenak untuk bersyukur atas hal-hal baik dalam hidup kita, renungkan atas segala hal yang telah kita capai, pengalaman yang kita dapatkan, keahlian yang kita miliki, dan hal-hal terindah yang telah terjadi di hidup kita. Seringkali kita menginginkan kehidupan yang sempurna, tanpa memahami bahwa kita perlu untuk merubah diri sendiri, dan membuat apa yang kita miliki lebih bernilai dan berguna untuk bekal di masa depan nantinya. 

Jika kita merasa pekerjaan kita sangatlah berat, bagaimana dengan orang ini?


Kita sering kali, merasa pekerjaan kita sangatlah berat, tapi coba lihat lah gambar di atas, seseorang yang memiliki pekerjaan yaitu mengangkat kayu besar hanya dengan gerobak yang di tarik dengan sepeda, di tengah terik nya matahari, demi menafkahi keluarga nya.

Dalam keseharian tanpa kita sadari, sering terbesit dalam pikiran kita merasa kurang puas dengan keadaan kita saat ini, mungkin kita merasa kecewa karena apa yang kita harapkan belum sesuai dengan kenyataan yang kita terima. Kadang kala ketidakpuasaan kita dengan keadaan dan kehidupan kita sekarang seringkali menjadikan kita merasa kurang bersemangat, lesu dalam bekerja.

Berikut ini ada foto salah satu dari manusia seperti kita namun memiliki kekurangan, maksud saya disini “tidak kah kita tergerak dan terbuka hati kita untuk selalu bersyukur?”

Bila kita perhatikan foto-foto polos anak ini yang oleh Allah diberi agak berbeda dengan apa yang kita miliki yang orang umum mengatakan bahwa dia cacat, namun cobalah perhatikan adakah guratan rasa minder dan kecewa pada dirinya dengan keadaannya? dengan keterbatasan yang ia miliki tidak menjadikan sedikitpun kendala untuk dirinya melakukan apa yang kemungkinan sebagian orang katakan tidak pantas orang seperti dia lakukan.

Sering bukan kita mencari suatu alasan untuk tidak melakukan sesuatu atau menghindarinya mungkin karena malas atau karena kita tidak pantas lakukan atau bahkan karena kita merasa tidak memiliki sesuatu hal tertentu untuk melakukannya
Pahamkah kita dengan potensi yang kita miliki ? Apakah kita sudah membuka bungkusan potensi yang Allah hadiahkan khusus untuk kita dan memolesnya untuk kehidupan yang lebih baik dan bermanfaat ? ataukah mungkin sebaliknya untuk kehidupan yang lebih buruk ?

Terkadang kesadaran akan potensi diri sering terlambat muncul sementara usia serta kondisi sudah tidak sesuai dan tidak memadai lagi. Untuk unjuk kemampuan hingga diakui prestasinya hingga dihargai terkadang butuh waktu sebentar, tetapi persiapan untuk itu bisa sangat lama.

Bagaimana mungkin kita mendapatkan hal-hal yang lebih besar bila kita tidak mensyukuri atas yang kita telah miliki sekarang? Semuanya hanya bisa dimulai dengan apa yang kita telah miliki sekarang dan mensyukurinya. Coba tengok diri kita, lihat keluarga kita, lihat tetangga kita, lihat teman-teman kita, lihat saudara-saudara kita apakah mereka menyayangi kita dan coba kita lihat lebih jauh lagi bagaimana kebesaranNya dan kekuasaanNya.

Sekarang adalah bagaimana kita memahami dan mengembangkan potensi yang kita miliki dan meyakini yang Allah telah anugerahkan pada kita, dengan mengamalkannya sehingga tidak hanya bermanfaat untuk kita tetapi juga buat orang lain. Jika segala karunia Allah yang terbentang luas dimanfaatkan dengan baik untuk kebaikan bersama dengan senantiasa mengacu kepada aturan Allah, Sang Khalik, maka tidak mustahil, Allah akan menurunkan rahmat dan kebaikanNya tidak hanya di hari akhir nanti tetapi juga langsung kita terima tunai di dunia ini.

Kita pasti banyak memiliki keinginan dan cita-cita. Karena memang itulah sifat kita sebagai manusia, selalu menginginkan hal yang lebih. Sudah memilki sepeda motor, ingin punya mobil, sudah memiliki mobil, ingin membeli mobil lagi.  Namun, kita harus menyadari bahwa tidak selalu apa yang kita inginkan itu bisa kita dapatkan, kenapa kita harus pusing-pusing memikirkan yang belum tentu kita dapatkan, sementara banyak nikmat Tuhan yang kita miliki kita abaikan.

Mari mulai sekarang untuk mensyukuri apa yang telah kita miliki apapun keadaannya, dengan bersyukur sesulit apapun kehidupan yang kita lewati akan tetap terasa indah :)



Minggu, 08 Februari 2015

PERSAHABATAN


PERSAHABATAN

Apa yang kita alami demi teman kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah. Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya...

Persahabatan tidak terjalin secara otomatis tetapi membutuhkan proses yang panjang. Seperti besi menajamkan besi, demikianlah sahabat menajamkan sahabatnya.

Persahabatan diwarnai dengan berbagai pengalaman. Suka dan duka, dihibur-disakiti, diperhatikan-dikecewakan, didengar-diabaikan, dibantu-ditolak, namun semua ini tidak pernah sengaja dilakukan dengan tujuan kebencian

Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya. Sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, tetapi menyatakan apa yang amat menyakitkan dengan tujuan sahabatnya mau berubah

Proses dari teman menjadi sahabat membutuhkan usaha pemeliharaan. Dari kesetiaan, tetapi bukan pada saat kita membutuhkan bantuan barulah kita memiliki motivasi mencari perhatian, pertolongan dan pernyataaan kasih dari orang lain, tetapi justru ia beriinisiatif memberikan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh sahabatnya.

Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya.
Pada setiap kehidupan seseorang, pasti akan membutuhkan teman yang bisa berbagi disaat susah maupun senang. Sahabat memang memiliki peran yang bisa membuat hidup menjadi lebih berwarna.

Saat  memiliki teman yang baik, bukan hadiah atau bingkisan atau kado yang mereka inginkan. Tetapi perhatian dan kesabaran yang mereka butuhkan. Terkadang sahabat juga butuh didengarkan, baik itu senang maupun dalam duka.
Sahabat akan membantu memecahkan permasalahan yang sedang  dihadapi. Atau mungkin hanya sekedar membicarakan masalah pekerjaan atau kehidupan yang terjadi di sekitar kita. Begitu pula dengan sang sahabat, mereka juga ingin kita melakukan hal yang sama. Membagi cerita-cerita yang lucu juga bisa membuat kedekatan dengan sang sahabat semakin erat.

Sahabat itu teman curhat, engga ada istilah stress ketika dirundung masalah, seberat apapun masalah itu kalau kita punya sahabat. Dalam hal ini sahabat bisa menjadi tempat berbagi cerita, teman curhat, yang nyaman. Kita bisa ngungkapin semua perasaan kita selain kepada keluarga yaitu kepada sahabat kita. Sahabat itu adalah dewa penolong. Butuh bantuan, butuh pertolongan kenapa engga lari ke sahabat. Siapa tau dia bisa bantu, bisa kasih solusi, atau paling tidak sekedar opini. Tapi bukan berarti setiap masalah harus lari ke sahabat, yang paling baik dan utama adalah dengan menyelesaikannya dengan sendiri, baru ke keluarga terus orang terdekat yaitu sahabat dan tidak lupa minta kepada Allah. Belajar mandiri ceritanya.
Sahabat itu orang yang nyambung diajak ngobrol, enak diajak diskusi, teman berbincang yang menyenangkan dan semua itu akan tercapai manakala bisa saling mengenal kepribadiannnya masing-masing. Sahabat itu orang yang dengan kelapangan hatinya bisa mengerti kita, dengan keterbukaan tangannya bisa menerima kita apa adanya, tanpa pernah berusaha mempengaruhi apalagi mengubah keadaan kita.

Minggu, 01 Februari 2015

Minggu keempat


Ada kesenduan yang mendalam datang menyergapku tiap kali ku sadari bahwa aku takakan lama lagi berada di SMA  saat itu. Aku berfikir , paling tidak masih bisa menikmati suasana di sini selama 2 bulan lagi. Suasana yang mempunyai  warna tersendiri bagiku, dan menciptakan sejuta  makna bagi hidupku.

Kerinduan akan masa-masa yang baru kerap datang pula dalam kesendirianku. Saat pertama kali ku injak SMA ini, saat aku MOS. Saat kujalin persahabatan dengan teman-teman. Saat  aku mulai mengenal  ke-individuan-an dalam segala hal . Saat aku berhura-hura di kantin bersama, serta seribu saat-saat indah lainnya.

Tiga tahun yang lalu aku dan teman-teman di SMP tengah sibuk-sibuknya menentukan pilihan sekolah SMA yang di inginkan oleh banyak  orang, aku sendiri yakin pada saat itu memilih sekolah ini. Aku datang ke sekolah, ambil formulir, dan melakukan pendaftaran siswa baru.

Dan ini kurasakan betapa singkatnya waktu tiga tahun itu. Sebenarnya aku ingin menikmati sepuas-puasnya masa SMA. Menikmati masa-masa yang takan terulang lagi kelak. Kehidupan yang membuka mataku akan arti hidup menginjak dewasa. Waktuku  tinggal 2 bulan lagi disekolah ini. Aku harus memanfaatkan sisa waktu sebaik-baiknya. Aku ingin meninggalkan sekolahan ini dengan kenangan semanis-manisnya.

Sekolah oh sekolah, belajar belajar dan belajar. Mungkin banyak dari kita yang masih sekolah ingin segera lulus. Eitt tunggu dulu, bagi kalian para remaja coba sejenak renungi kehidupan kita sekarang. Masa sekolah, hmm apakah anda pernah merenungi indahnya masa-masa sekolah ini?

1.Banyak teman-teman dan sahabat

Jujur dan akui saja, teman-teman yang selama ini menemani anda adalah teman sekolah? Yap inilah indahnya sekolah itu, dibalik rumbukan tugas yang menuntut utk dikerjakan ternyata sekolah juga memberi kita sahabat-sahabat yang asik untuk diajak berbagi dalam suka, duka dan canda tawa bersama.

2. Keceriaan kelucuan dan keusilan teman-temn di kelas

Pernahkah anda tertawa bersama kawan-kawan, jahil bersama, diusili, dll. Mungkin saat ini semua terasa biasa saja, namun percayalah, suatu saat nanti masa-masa ini adalah masa-masa yang akan paling dirindukan

Waktu sekolah tersisa 2 bulan lagi, tentunya kita bakalan pisah. Perpisahan adalah akibat dari sebuah pertemuan. Setiap pertemuan pasti menghasilkan rasa. Entah rasa tertarik, rasa benci, rasa mencintai, rasa ingin melindungi, termasuk rasa takut kehilangan. Perpisahan pasti dialami oleh setiap orang. Entah saya, kamu, kita, dan mereka.

Yang belum pernah terfikirkan dari suatu perpisahan adalah menemukan hal baru yang belum pernah kita temukan, bertemu dengan seseorang yang belum pernah kita temui, berkenalan dengan suatu pribadi yang belum kita ketahui sebelumnya.

Sekian ya, sampai ketemu di tulisan berikutnya^^